Sabtu, 15 Juni 2013

Patutkah Kita Berdoa kepada Para Santo?

 

SIAPA yang tidak pernah khawatir dan tidak pernah merasa perlu meminta bantuan orang lain? Kalau kita punya masalah, kita biasanya akan mencari teman yang bisa bersimpati dan tahu banyak tentang masalah yang kita hadapi. Teman yang lembut sekaligus berpengalaman pasti sangat berharga.
Ada yang mungkin punya perasaan serupa tentang doa. Mereka lebih nyaman berdoa kepada seorang santo atau santa dan bukan kepada Allah, karena Allah dianggap terlalu tinggi dan menakutkan. Alasan lainnya, para santo telah menghadapi cobaan dan penderitaan yang sering dialami manusia, sehingga bisa lebih berempati. Misalnya, orang yang kehilangan sesuatu yang penting bagi mereka mungkin memilih untuk meminta bantuan ”Santo” Antonius dari Padua—yang diyakini sebagai santo pelindung barang yang hilang atau dicuri. Saat berdoa meminta jodoh, mereka mungkin akan memilih ”Santo” Rafael atau memilih ”Santo” Yudas Tadeus jika mereka putus asa karena kesulitan yang berat.

Dunia Tanpa Prasangka—Kapan?



 

”SAYA punya impian.” Kata-kata itu diucapkan lima puluh tahun yang lalu pada 28 Agustus 1963, oleh Martin Luther King, Jr., seorang tokoh hak-hak sipil dari Amerika, dalam pidatonya yang paling terkenal. Sepenggal kalimat itu ia ucapkan berulang kali untuk mengungkapkan impian, atau harapannya, bahwa suatu hari nanti manusia akan hidup bebas dari prasangka ras. Walaupun harapan ini hanya ia sampaikan kepada warga Amerika Serikat, hal itu juga mewakili impian orang-orang dari berbagai bangsa.
Martin Luther King, Jr., menyampaikan pidato tentang hak sipil

Prasangka—Masalah Sedunia

Prasangka—Masalah Sedunia

JONATHAN, seorang pria Korea kelahiran Amerika, menjadi korban prasangka ras semasa kecil. Setelah dewasa, ia memutuskan pindah ke tempat baru, dengan harapan penduduk di sana tidak akan menilai dia berdasarkan wajah atau rasnya. Ia pun bekerja sebagai dokter di sebuah kota di utara Alaska, AS, di mana ia kelihatan mirip dengan banyak pasiennya. Ia berharap, mungkin di tengah dinginnya Lingkar Arktik, ia akhirnya terbebas dari dinginnya prasangka yang lebih menusuk.
Harapannya hancur ketika ia mengobati seorang wanita berusia 25 tahun. Sewaktu wanita itu tersadar dari koma dan melihat wajah Jonathan, ia langsung melontarkan makian, meluapkan kebenciannya yang berurat berakar terhadap orang Korea. Insiden itu menyadarkan Jonathan akan suatu fakta menyakitkan bahwa semua upayanya untuk pindah dan membaur tidak bisa membebaskannya dari cengkeraman prasangka.
Pengalaman Jonathan merupakan potret realitas yang suram: Prasangka ada di seluruh pelosok bumi.  Dapat dikatakan, di mana ada manusia, di situ ada prasangka.
Walaupun prasangka ada di mana-mana, banyak orang mengutuknya. Sungguh ironis. Bagaimana mungkin sesuatu yang sangat dibenci bisa begitu umum? Jelas, banyak orang yang tidak menyukai prasangka tidak sadar bahwa prasangka juga ada dalam diri mereka. Bagaimana dengan Anda sendiri?